SINDOTIME.COM—Banjir Bandang yang terjadi di Kabupaten Solok pada Senin (25/09/2026), menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Betapa tidak, hantaman galodo tersebut, meluluh lantakan sejumlah infrastruktur di kabupaten tersebut. Bahkan, dibutuhkan dana hingga miliaran rupiah untuk bisa membenahi kembali sarana dan prasarana serta infrastruktur yang diterjang bencana alam tersebut.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu menyebut, dari dua warga yang sebelumnya dinyatakan hilang, satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian. Tim gabungan masih terus melakukan penyisiran di kawasan bantaran sungai yang terdampak galodo.
Bupati Solok juga melaporkan sebanyak 44 rumah warga terdampak, dengan 11 unit mengalami kerusakan berat dan 32 unit rusak ringan. Bencana turut berdampak terhadap lahan pertanian, infrastruktur dan sejumlah gedung perkantoran sehingga pelayanan publik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok ikut terganggu.
Untuk kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi, Pemerintah Kabupaten Solok memperkirakan kebutuhan anggaran sekitar Rp819 miliar. Anggaran tersebut antara lain untuk pembangunan sabo dam sekitar Rp250 miliar, normalisasi sungai sekitar Rp300 miliar, serta perbaikan rumah warga, lahan pertanian, gedung perkantoran dan sarana prasarana umum.
Dalam masa tanggap darurat ini, Jon Firman Pandu menyebut Pemkab Solok membutuhkan dukungan sejumlah peralatan untuk mempercepat penanganan, antara lain mini ekskavator untuk menjangkau lokasi yang sulit dimasuki alat berat, breaker untuk memecah material batu berukuran besar, serta sekitar 10 unit tenda berukuran besar sebagai lokasi pelayanan sementara agar pelayanan publik di daerah tersebut tetap berjalan.
Ia mengaku, pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat yang mengungsi, termasuk selimut, matras, obat-obatan serta kebutuhan kelompok rentan, anak-anak, bayi dan balita. Sebagian warga terdampak juga sementara ditampung di rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati untuk memastikan kebutuhan dasar dan kesehatan mereka tetap terpenuhi.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno meninjau langsung lokasi terdampak banjir bandang (galodo) di Kabupaten Solok, Kamis (24/9/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi masyarakat sekaligus memastikan penanganan bencana berjalan cepat, mulai dari pencarian korban, pemenuhan kebutuhan dasar hingga persiapan pemulihan.
Pratikno bersama Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, Kepala BNPB Suharyanto dan Bupati Solok beserta seluruh pihak terkait juga menggelar rapat koordinasi terkait percepatan penanganan bencana di Posko Utama. Menteri PMK, Pratikno menekankan agar penanganan masyarakat terdampak berjalan bersamaan dengan langkah mitigasi terhadap bencana susulan.
Menurut Pratikno, pada masa tanggap darurat pencarian korban yang masih hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi perhatian utama. Di sisi lain, pembersihan dan penyusuran sungai juga perlu dilakukan untuk mengurangi risiko apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.











