SINDOTIME.COM–Jumlah pengguna jasa penerbangan lewat Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tercatat mengalami penurunan sekitar 12 persen sejak beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya harga tiket pesawat yang membuat sebagian masyarakat memilih menunda perjalanan atau beralih ke moda transportasi lain yang lebih terjangkau.
General Manager Bandara Internasional Minangkabau, Dony Subardono menjelaskan, bahwa kenaikan tarif penerbangan merupakan konsekuensi dari meningkatnya biaya operasional yang harus ditanggung maskapai. Menurutnya, harga avtur yang masih tinggi serta penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah menjadi faktor utama yang mendorong naiknya ongkos penerbangan.
“Terjadi penurunan jumlah penumpang sekitar 12 persen. Kenaikan harga tiket pesawat menjadi salah satu indikator yang memengaruhi berkurangnya minat masyarakat menggunakan transportasi udara,” ujar GM BIM, Dony Subardono pada Minggu (7/6).
Ia mengatakan, tekanan biaya yang dihadapi maskapai tidak hanya berasal dari bahan bakar pesawat. Sejumlah komponen lain, seperti biaya sewa armada, pembelian suku cadang, perawatan pesawat, hingga pembayaran premi asuransi, juga mengalami kenaikan karena sebagian besar transaksi menggunakan mata uang dolar AS.
Akumulasi peningkatan biaya tersebut membuat maskapai harus melakukan penyesuaian tarif agar operasional tetap berjalan. Namun, di sisi lain, kemampuan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan kenaikan harga tiket berdampak pada menurunnya permintaan perjalanan udara. Banyak calon penumpang memilih mengurangi frekuensi bepergian atau menggunakan transportasi darat yang dinilai lebih ekonomis.
Dampak penurunan minat masyarakat mulai terlihat pada sejumlah rute domestik yang menghubungkan Sumatera Barat dengan berbagai daerah. Tingkat keterisian kursi di beberapa penerbangan mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, sehingga turut memengaruhi trafik penumpang di Bandara Internasional Minangkabau.











