SINDOTIME.COM-Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh, umat Islam Muhammadiyah menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang jatuh pada Jumat (20/3). Momentum ini tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan seperti kepedulian sosial, semangat berbagi, serta membangun persaudaraan yang melampaui berbagai batas perbedaan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam refleksi Idul Fitri yang disampaikan pada Kamis (19/3), menekankan bahwa semangat solidaritas yang lahir dari Ramadhan perlu terus dijaga dan diperluas.
Kepedulian tersebut tidak hanya relevan dalam lingkup nasional, tetapi juga harus menjangkau masyarakat global, termasuk mereka yang tengah mengalami kesulitan di berbagai wilayah dunia seperti Palestina, Iran, dan kawasan lain yang membutuhkan bantuan.
Menurutnya, memberi merupakan wujud nyata dari nilai keislaman yang universal. Tindakan ini seharusnya dilakukan tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, golongan, maupun kebangsaan. Semangat berbagi inilah yang seharusnya tetap hidup dan menjadi bagian dari karakter seorang muslim setelah Ramadan berakhir.
“Memberi adalah panggilan dari semangat ke-berislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadhan,” ungkap Haedar.
Selain itu, Haedar mengingatkan pentingnya menjaga pengendalian diri, khususnya dalam mengelola amarah. Walaupun emosi marah merupakan bagian alami dari manusia, sikap berlebihan dan mudah tersulut emosi perlu dihindari. Ramadan telah melatih umat Islam untuk menahan diri, dan kebiasaan ini seharusnya terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.











