SINDOTIME.COM-Ketegangan antara Donald Trump dan pemerintah Kuba kembali meningkat di tengah krisis energi yang melanda negara kepulauan tersebut. Pemadaman listrik total yang terjadi baru-baru ini memperparah kondisi ekonomi Kuba, yang sudah tertekan akibat pembatasan pasokan minyak oleh Amerika Serikat.
Pemerintahan di Washington dilaporkan semakin memperketat tekanan, termasuk melalui kebijakan yang membatasi akses energi Kuba. Dalam situasi ini, Trump bahkan menyampaikan pernyataan kontroversial bahwa Amerika Serikat berpotensi “mengambil alih” Kuba dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras pemerintahannya terhadap negara yang selama hampir 70 tahun memiliki hubungan tegang dengan AS.
“Apa yang mereka umumkan kemarin tidak cukup dramatis. Itu tidak akan memperbaikinya. Jadi mereka harus membuat beberapa keputusan besar,” kata Rubio, seorang Kuba-Amerika dan kritikus vokal partai penguasa negara itu, kepada wartawan di Gedung Putih.
Menanggapi hal itu, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam. Ia menyatakan bahwa setiap bentuk intervensi dari pihak luar akan dihadapi dengan perlawanan kuat, sekaligus menegaskan komitmen Kuba untuk mempertahankan kedaulatan nasional.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai langkah terbaru Kuba—yang mulai membuka peluang investasi bagi warga diaspora—belum cukup untuk memenuhi tuntutan reformasi ekonomi berbasis pasar bebas. Rubio menekankan bahwa perubahan yang lebih mendasar masih diperlukan jika Kuba ingin keluar dari tekanan ekonomi dan politik yang ada.











