SINDOTIME.COM-Di kampungnya di Nagari Sitalang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Zamrisyaf SY pernah dijuluki urang boco—orang yang terlalu banyak berkhayal. Julukan itu melekat sejak awal 1980-an.
Kala sebagian besar warga masih memikirkan bagaimana listrik bisa masuk ke kampung, pemuda itu justru berbicara tentang kincir angin, tenaga air, bahkan gelombang laut sebagai sumber energi masa depan. Bagi sebagian orang, itu terdengar mustahil.
Namun bagi Zamrisyaf, mimpi selalu memiliki cara sendiri untuk bertahan hidup.
Empat puluh tahun berlalu. Rambutnya kini memutih. Langkahnya tak lagi secepat dulu. Tetapi satu hal tetap sama: ia masih berbicara tentang energi gelombang laut—teknologi yang bahkan hingga hari ini belum menjadi arus utama di Indonesia.
“Kalau negara lain bisa memanfaatkan gelombang laut, kenapa Indonesia yang memiliki garis pantai lebih dari 108 ribu kilometer belum menjadikannya sebagai kekuatan energi?” pertanyaan itu terus ia ulang dalam berbagai forum. Pertanyaan yang sama telah ia bawa selama empat dekade.
Anak Kampung yang Menolak Menyerah
Nama Zamrisyaf bukanlah sosok baru dalam perjalanan energi alternatif di Sumatera Barat.
Pada era 1980-an, Harian Haluan pernah mengangkat kisahnya sebagai pemuda desa yang memilih kembali ke kampung untuk mengembangkan teknologi sederhana. Ketika banyak orang mengejar pekerjaan di kota, ia justru menghabiskan waktunya merakit turbin, mengukur debit sungai, dan bereksperimen dengan pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
Pada masa pemerintahan Gubernur Hasan Basri Durin, keterlibatannya dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) mulai dikenal di berbagai daerah.Baginya, listrik bukan sekadar persoalan lampu menyala.
Energi adalah jalan membuka akses pendidikan, ekonomi, hingga kualitas hidup masyarakat terpencil.
Ia percaya teknologi tidak harus mahal. Yang terpenting adalah mampu menjawab kebutuhan masyarakat.Kini perhatian Zamrisyaf beralih ke laut. Di hadapannya terbentang garis pantai barat Sumatera yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia.
Ombak yang selama ini dipandang sebagai ancaman, menurutnya justru menyimpan energi yang belum dimanfaatkan. Keyakinannya bukan tanpa dasar. Menurut International Energy Agency (IEA), energi laut—termasuk gelombang dan pasang surut—merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang terus dikembangkan berbagai negara.
Sementara International Renewable Energy Agency (IRENA) menilai teknologi kelautan berpotensi menjadi pelengkap penting dalam bauran energi bersih dunia, terutama bagi negara kepulauan.
Indonesia sendiri memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan garis pantai sekitar 108 ribu kilometer, salah satu yang terpanjang di dunia.
Potensi energi laut diperkirakan mencapai puluhan gigawatt, tetapi hingga kini pemanfaatannya masih sangat terbatas dan sebagian besar baru berada pada tahap riset dan proyek percontohan. Bagi Zamrisyaf, kondisi itu adalah paradoks. Negeri yang dikelilingi laut justru belum mampu menjadikan laut sebagai sumber energi.
Kenyang Janji
Empat puluh tahun memperjuangkan energi membuat Zamrisyaf belajar satu hal. Membangun teknologi ternyata jauh lebih mudah daripada membangun komitmen.Ia mengaku sudah terlalu sering mendengar janji.
Politisi datang silih berganti. Kepala daerah berganti periode. Proposal dipresentasikan berkali-kali. Banyak yang mengangguk setuju. Tak sedikit yang meminta foto bersama. Namun setelah itu, semuanya kembali sunyi.Proposal masuk lemari. Riset berhenti menjadi laporan. Inovasi kembali menunggu. “Saya tidak menghitung lagi berapa banyak janji yang pernah saya dengar,” katanya pelan.
Baginya, problem terbesar riset di Indonesia bukan kurangnya peneliti, melainkan minimnya keberanian membawa hasil penelitian menuju tahap implementasi. Padahal, sebuah inovasi baru benar-benar hidup ketika digunakan masyarakat.
Dua Paten, Satu Pengakuan
Di tengah keterbatasan itu, perjalanan Zamrisyaf tidak sepenuhnya berjalan tanpa pengakuan. Ia pernah menerima Penghargaan Kalpataru atas dedikasinya terhadap lingkungan. Ia juga mengantongi dua paten terkait teknologi pengembangan energi gelombang laut. Namun baginya, penghargaan hanyalah penanda perjalanan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut benar-benar diterapkan.
“Saya tidak sedang mengejar penghargaan. Saya ingin teknologi ini dipakai,” ujarnya.
Membangun Rumah Bernama METI Sumbar
Belakangan, Zamrisyaf memilih memperluas perjuangannya melalui Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatera Barat. Baginya, perjuangan energi bersih tidak mungkin lagi dilakukan secara individual. Perguruan tinggi, pemerintah, industri, komunitas, hingga masyarakat harus berada dalam satu ekosistem yang sama.
METI Sumbar ingin menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan, mulai dari energi surya, mikrohidro, biomassa, hingga energi gelombang laut. Karena transisi energi tidak cukup dibangun melalui seminar. Ia membutuhkan keberanian mengambil keputusan.
Menunggu Negara Hadir
Harapan itu kini ia titipkan kepada Anggota DPD RI asal Sumatera Barat, Buya Muslim M. Yatim. Yang ia minta sesungguhnya sederhana.Bukan proyek bernilai triliunan rupiah.Bukan pula seremoni. Ia hanya berharap riset-riset energi terbarukan di Sumatera Barat memperoleh dukungan pendanaan yang lebih serius sehingga mampu melahirkan prototipe yang siap diterapkan.
Menurutnya, banyak perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Namun keterbatasan anggaran membuat sebagian besar penelitian berhenti sebagai laporan akademik.
“Bantulah membuka jalan. Minimal melalui dukungan dana riset di universitas. Penelitian sudah banyak, tetapi dampaknya terhadap pengembangan teknologi masih sangat kecil,” ujarnya.





