Mendikdasmen: Mendidik adalah Menginspirasi dan Memuliakan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti, yang hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya menempatkan proses belajar sebagai ruang untuk menginspirasi dan memuliakan peserta didik.
Menurutnya, menjadi guru tidak berhenti pada aktivitas menyampaikan pengetahuan. Guru perlu terus hadir sebagai sosok yang mencintai murid dan ilmu, sekaligus menjadi figur yang mampu menumbuhkan inspirasi dalam perjalanan belajar anak didiknya.
“Kalau Bapak/Ibu ingin menjadi guru, jadilah orang yang cinta murid dan cinta ilmu. Mendidik itu adalah menginspirasi. Menginspirasi tidak harus menggurui. Karena itu, ketika Bapak/Ibu menjadi guru, jadilah figur yang inspiratif, yang bisa membawa perubahan dan membuka jalan bagi murid untuk menjadi lebih baik dalam kehidupannya.”
Prof. Mu’ti juga mengingatkan bahwa guru bukan hanya fasilitator dalam proses pembelajaran, tetapi juga seorang pembelajar yang terus bertumbuh bersama murid.
“Guru adalah juga pembelajar, sehingga selama dia mengajar, dia juga harus menjadi murid di kelas itu, belajar bersama dengan murid-murid yang lainnya. Kata kuncinya adalah engagement with the process of learning, terlibat dalam proses belajar.”
Pesan tersebut memperkuat pentingnya peran manusia dalam pendidikan. Teknologi dapat membantu membuka akses terhadap pengetahuan, tetapi proses belajar tetap membutuhkan pendidik yang mampu membangun keterlibatan, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membantu peserta didik menggunakan pengetahuan secara bermakna.
Pendidik sebagai Penggerak Imajinasi dan Kemungkinan
Peran pendidik dalam membangun kualitas manusia juga menjadi perhatian Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011–2014.
Dalam pemikirannya mengenai pembangunan sumber daya manusia, guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan imajinasi dan membuka kemungkinan bagi generasi muda.
“Saya agak percaya dengan kurikulum sebanyak saya percaya dengan guru. Saya enggak percaya dengan teknologi sebanyak saya percaya dengan guru. Guru tanpa kurikulum, tentunya guru yang brilian, dia bisa menyuntik imajinasi, ambisi, dan keberuntungan cerdas ke seorang murid. Guru tanpa teknologi, guru yang brilian bisa menyuntik ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas.” ujar Gita Wirjawan
Pemikiran tersebut sejalan dengan keyakinan ParagonCorp bahwa kualitas manusia menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia untuk terus bertumbuh. Karena itu, mendukung pendidik bukan hanya tentang meningkatkan kapasitas mengajar, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk terus belajar, bereksperimen, berbagi, dan menularkan praktik baik kepada lingkungan di sekitarnya.











