SINDOTIME.COM – Upaya meningkatkan keamanan dan kenyamanan lingkungan pendidikan di SMAN 2 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mulai menunjukkan hasil. Program revitalisasi sekolah yang berlangsung sejak April 2026 tersebut telah diselesaikan pada Oktober 2026 dengan menyasar lebih dari 20 ruangan dan fasilitas pendidikan.
Pembenahan ini tidak sekadar memperbaiki kerusakan bangunan, tetapi juga menyesuaikan konstruksi sekolah dengan kondisi geografis setempat. Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko genangan air yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan setiap kali hujan deras mengguyur kawasan Batang Anai.
Kepala SMAN 2 Batang Anai, Aghfirly Syofyan, mengungkapkan bahwa banjir akibat meluapnya sungai kerap mengganggu aktivitas pendidikan. Ketika hujan turun dalam waktu lama dengan intensitas tinggi, air bahkan bisa memasuki hampir seluruh ruangan sekolah.
Situasi tersebut tidak jarang memaksa pihak sekolah mengambil keputusan untuk memulangkan siswa lebih cepat. Langkah antisipasi dilakukan ketika debit air sungai mulai meningkat guna menghindari kemungkinan peserta didik terjebak banjir.
Pengalaman serupa juga pernah dialami langsung oleh Aghfirly. Ia bahkan harus bertahan di lingkungan sekolah hingga malam hari lantaran air menutup bangunan dan jalur akses keluar.
“Saya saja pernah tidak bisa keluar sekolah hingga pukul 21.00 WIB akibat banjir sudah menggenangi sekolah dan jalan untuk keluar,” kata Aghfirly.
Ia menjelaskan, dari 21 ruang kelas yang terdampak, sebanyak 14 ruang kelas mendapatkan penanganan melalui program revitalisasi. Pekerjaan tersebut juga mencakup perpustakaan, ruang guru, ruang usaha kesehatan sekolah (UKS), serta laboratorium. Jika dihitung secara keseluruhan, lebih dari 20 unit ruangan dan fasilitas telah diperbaiki.
Salah satu fokus utama pengerjaan adalah mengubah konstruksi bangunan agar lebih mampu menghadapi ancaman genangan. Bagian dasar bangunan ditinggikan, dinding dibuat lebih tinggi, sedangkan posisi jendela dan sistem sirkulasi udara turut disesuaikan. Konstruksi atap juga mengalami perubahan sebagai bagian dari penyesuaian bangunan.
Rekayasa tersebut mempertimbangkan kondisi geografis sekolah yang berada pada posisi lebih rendah daripada aliran anak Sungai Batang Anai, sehingga membutuhkan penanganan khusus untuk mengurangi dampak luapan air.
“Meski bantuan tersebut belum mengakomodir seluruh kebutuhan, ini sudah memberikan rasa aman dan nyaman pada peserta didik,” ujar Aghfirly.
Pekerjaan revitalisasi yang berlangsung selama sekitar tujuh bulan itu dapat diselesaikan sesuai jadwal, yakni pada Oktober 2026. Pendanaannya mencapai sekitar Rp2,9 miliar yang berasal dari APBN melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Dengan demikian, pembiayaan proyek tersebut merupakan anggaran kementerian melalui APBN dan bukan bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah (TKD).












