Oleh : Mega Permata Hati
(Mahasiswa RPL UNP 2026)
SINDOTIME.COM – AKU mengenal Rania bukan di kampus, bukan di organisasi, tapi di warung kopi kayu di dekat jembatan kecil menuju Pasar Solok. Warung itu tidak punya daftar menu. Hanya ada tulisan kapur di papan hitam: Kopi Hitam, Kopi Susu, Teh, Mie Instan. Rania adalah anak pemilik warung itu. Setiap sore setelah kuliah, aku mampir.
Bukan karena kopinya paling enak, tapi karena penjaganya selalu ingat pesananku tanpa pernah aku ucapkan dua kali. Awalnya aku pikir itu hal biasa. Sampai suatu hari aku datang dengan teman. Temanku memesan kopi susu gula banyak, aku memesan seperti biasa. Rania menatapku sebentar lalu berkata, kamu tetap tanpa gula ya?
Temanku tertawa, aneh, ada orang minum kopi pahit tiap hari. Aku hanya tersenyum. Tidak ada yang tahu, aku minum kopi tanpa gula bukan karena aku suka pahit, tapi karena sejak kecil Bapak selalu bilang, kalau kamu mau tahu rasa asli sesuatu, jangan tambahkan apa-apa dulu. Rania tidak pernah bertanya kenapa. Ia hanya mengangguk dan membuatkannya.
Lama-lama kami jadi akrab. Aku tahu jadwalnya. Ia kuliah di jurusan yang sama, tapi beda angkatan. Pagi kuliah, sore jaga warung menggantikan ibunya. Aku tahu ia punya kebiasaan melipat struk belanja menjadi perahu kecil kalau warung sepi. Aku tahu ia selalu menyimpan bunga kamboja putih di toples bekas selai. Katanya biar warung wangi.
Kami tidak pernah janjian, tapi entah bagaimana selalu bertemu jam setengah lima. Aku mengerjakan skripsi, ia mengerjakan laporan keuangan warung. Kadang kami hanya diam. Bunyi ketel air mendidih, bunyi motor lewat, bunyi kucing tidur di atas karung kopi, itu sudah cukup menjadi percakapan.
Suatu sore hujan turun deras. Warung bocor di satu sudut. Rania mengambil ember biru dan menaruhnya di bawah tetesan. Aku menertawakan, ini seperti cerita Uni Siti dengan embernya. Rania tidak mengerti, tapi ia ikut tertawa. Di sore hujan itu, untuk pertama kalinya kami bicara lebih lama. Ia bercerita kalau ia takut warung ini tutup.
Orang sekarang lebih suka kopi kekinian di ruko besar. Bapaknya sudah tua, ibunya sakit lutut. Kalau warung tutup, kenangan masa kecilnya juga tutup. Aku tidak pandai menghibur. Aku hanya berkata, kalau begitu kita harus bikin orang datang bukan karena kopinya, tapi karena penjaganya tidak pernah lupa pesanan orang. Rania tertawa sampai matanya sipit.
Sejak hari itu aku punya misi kecil. Aku mengajak teman-teman kos datang ke warung itu. Aku posting foto warung itu di Instagram story, dengan caption kopi tanpa gula dan senyum tanpa jeda. Perlahan warung itu ramai lagi.
Bukan ramai sekali, tapi cukup untuk membuat Rania tidak lagi melipat struk menjadi perahu karena bosan, tapi karena banyak pembeli. Di tengah keramaian itu, ada satu hal yang tidak berubah. Pesananku. Selalu kopi hitam tanpa gula. Bahkan ketika aku mencoba memesan yang lain karena iseng, Rania akan mengernyit dan berkata, kamu tidak cocok pakai gula.







