Humanity

Suara yang Selalu Ada Di Bangku Kelas Kami 

×

Suara yang Selalu Ada Di Bangku Kelas Kami 

Sebarkan artikel ini
Oleh : Faizah Amelia (Siswi SMA Negeri 1 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman)

SINDOTIME.COM-AKU adalah seorang siswi kelas 10 SMA yang setiap hari duduk di bangku kelas, mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, mencatat, mengerjakan tugas, dan juga terkadang merasa lelah dengan itu semua.  Setiap pagi aku berangkat ke sekolah dengan hal yang sama, namun dengan semangat belajar yang baru. Hidupku terlihat sederhana—rumah, sekolah, tugas, lalu pulang.

Tapi percayalah dibalik itu semua aku hanyalah seorang anak remaja yang ingin mencapai cita-cita, namun terkadang juga masih bingung harus ke mana. Dibalik itu semua aku juga merupakan seorang remaja yang masih takut untuk melangkahkan kakinya dan membiarkan semesta membawanya berkelana.

Setiap pagi, suara pertama yang aku dengar adalah suara ibu di dapur, suara piring, suara sendok, suara air, dan suara ibu yang memanggil namaku supaya tidak terlambat sekolah. Dulu aku sering kesal kalau dipanggil berkali-kali, tapi sekarang aku berpikir, mungkin itu salah satu suara yang paling penting dalam hidupku. Setelah itu aku berangkat sekolah.

Baca Juga  TXT Dipastikan Comeback April Mendatang, Fokus Kerjakan Album Terbaru

Di jalan aku mendengar banyak sekali suara. Suara motor, suara orang berbicara, suara pedagang yang menawarkan dagangannya, semua bercampur jadi satu, kehidupan yang akan terus berjalan seperti biasa. Sesampainya di sekolah, suasana selalu ramai, kelas kami tidak pernah benar-benar sepi. Ada yang bercerita, ada yang tertawa, ada yang mengeluh karena tugas.

“Aduh, capek banget.” “Kenapa sih tugasnya banyak banget?” “Mau cepat lulus.” Dulu aku juga sering berbicara seperti itu kalau lagi benar-benar lelah. Tapi sekarang rasanya beda. Aku mulai merasa kalau keluhan itu… Sebenarnya bagian dari sesuatu yang lebih besar untuk dipertanggungjawabkan.

Baca Juga  Disomasi Rozac Tanjung, Fauzana Bilang Ampun Bang

Suara keluhan itu bukan hanya sekedar omelan, itu tanda mereka sedang berusaha. Suara langkah kaki ke sekolah itu bukan hal biasa, itu perjuangan. Aku juga mulai sadar… Aku bukan satu-satunya yang punya mimpi. Dikelas itu ada banyak mimpi. Terkadang di saat jam istirahat, kami duduk dikelas sambil berbincang tentang masa depan. Ada yang ingin jadi dokter. Ada yang ingin jadi polisi. Ada yang setelah lulus ingin cepat bekerja karena beban ekonomi keluarga tertanggung di pundaknya. Ada yang hanya ingin hidup lebih baik.