Humanity

Kembali Pulang

×

Kembali Pulang

Sebarkan artikel ini
Oleh : Oleh : Virzy Aqisha Ramadhani (Siswi SMA Negeri 1 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman)

SINDOTIME.COM-HUJAN turun perlahan membasahi bumi tanpa permisi, berbisik pelan dengan kenangan dan sunyi yang tak bisa diungkapkan oleh kata. Almyra Anaraya, seorang gadis berusia 25 tahun yang akrab disapa Myra itu tengah terduduk di sofa apartemen mewah yang ia tempati dengan sebuah buku yang kini sedang ia baca. Usaha toko roti yang ia miliki terus didatangi para pelanggan, seolah pintu toko itu selalu memberi ruang tanpa mengenal jeda. N

amun dibalik itu semua, ada perasaan yang tak utuh dari dalam dirinya. Dulu, kehidupan yang Myra jalani tidak begitu mudah. Sejak kecil, Myra hidup dalam keterbatasan. Ayahnya bekerja serabutan yang tak menetap pada 1 pekerjaan saja hanya demi bisa mencukupi kebutuhan mereka. Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang memastikan semuanya tetap berjalan walau hidup dalam keterbatasan dan penyakit jantung yang telah lama di deritanya.

Sehingga tak banyak aktivitas yang dapat ia lakukan, serta kedua adiknya Melisa yang masih menduduki bangku SMP dan Noval yang masih menduduki bangku sekolah dasar. Apa yang Myra lihat dari kedua orang tuanya bukanlah hanya sekedar perjuangan, melainkan cinta dan nilai nilai sederhana yang mengajarkan dirinya tentang arti bersyukur, bertahan, bekerja keras, serta tetap berdiri walaupun semuanya terasa berat.

Menjadikan alasan Myra untuk bisa melangkah lebih jauh dari tempat ia berasal. Dari sinilah langkah Myra dimulai. Di masa SMA, yang dimana sebagian besar para kalangan remaja menghabiskan waktu nya dengan bermain bersama teman teman seusia mereka dan menikmati masa muda. Namun bagi Myra, justru inilah titik awal untuknya melangkah dan mengisi hari hari nya bukan dengan kebebasan maupun kesenangan, tetapi perjuangan.

Baca Juga  Rose BLACKPINK, Sempat Nyamar jadi Nenek-Nenek Demi Pujaan Hati

Setiap pulang sekolah, Myra mulai menyibukkan dirinya dengan membuat beberapa jenis roti yang pernah diajari ibunya disaat Myra masih kecil. Perlahan, Myra mulai mengembangkan resep roti itu dengan meracik adonan melalui caranya sendiri. Hingga tanpa terasa, roti buatannya memiliki cita rasa yang jauh lebih kuat dan lebih lezat.

Myra menjual roti buatannya itu di sekolah. Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, ia selalu menitipkan roti buatannya itu kepada ibu kantin dengan harapan roti tersebut dapat laku terjual. Awalnya, roti tersebut memang hanya terhitung jari saja yang terjual. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, roti tersebut selalu lenyap berada di tangan pembeli. Seolah memiliki daya tariknya sendiri, bahkan tak jarang roti itu habis tanpa tersisa.