Seketika, dunia Myra terasa runtuh tanpa bersuara. Kedua adiknya berjalan mendekatinya dan memeluk Myra dengan air mata yang terus mengalir di wajah mereka. Tak ada sepatah kata pun yang mampu Myra ucapkan selain membalas pelukan adiknya dengan mata sembab yang terasa menyakitkan. Pemakaman berlangsung secara sederhana. Setelah semuanya selesai, semua orang kembali kerumahnya masing-masing termasuk Myra dan kedua adiknya. Air mata tak berhenti mengalir. Sesampainya dirumah, Myra berjalan perlahan menyusuri tiap-tiap sudut rumah.
Kini semuanya hanya meninggalkan bekas kenangan, dapur kecil tempat ia belajar membuat roti bersama sang ibu sekaligus menjadi saksi awal dalam setiap langkahnya, serta kebersamaan di ruang keluarga yang hanya bisa dirindukan. “Ayah… Ibu…” Gumamnya pelan. “Myra pulang”.(***)











