Humanity

Kembali Pulang

×

Kembali Pulang

Sebarkan artikel ini
Oleh : Oleh : Virzy Aqisha Ramadhani (Siswi SMA Negeri 1 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman)

“Kalau kamu sudah berhasil, jangan lupa untuk pulang ya, nak… Kami semua akan selalu menanti kamu disini.” Sahut ibu dengan suara lirih dengan senyuman kecil di wajahnya.  “Kak Myra nanti kapan-kapan kita main bertiga lagi ya kak, bareng kak Melisa,” ucap Noval, adik bungsu Myra dengan kalimatnya yang sederhana dan penuh dengan harapan yang tulus.

Kalimat-kalimat itu sederhana, namun menyimpan makna yang cukup mendalam. Bagi Myra, itu bukanlah sekedar kata yang terucap, tetapi sebuah harapan, doa, dan kepercayaan yang menuntunnya dalam setiap langkah yang ia tempuh.  Waktu terus berjalan tanpa henti. Kehidupan di perantauan tidak begitu mudah untuk di jalankan.

Tak jarang Myra mengalami kegagalan dan hampir menyerah. Namun, ingatan akan keluarganya, dan ingatan tentang dapur kecil yang dimana tempat segalanya dimulai membuatnya mampu untuk bangkit dan melanjutkan perjuangannya. Hingga tahun demi tahun berlalu. Usaha yang Myra bangun selama di perantauan mulai berkembang pesat.

Baca Juga  Inilah Keistimewaan Bulan Ramadhan yang Perlu Dipahami Setiap Muslim

Bermula dari sebuah oven sederhana, menjadi sebuah toko kecil, hingga tumbuh menjadi usaha yang memiliki beberapa cabang di berbagai sudut kota. Doa, harapan, dan kepercayaan mampu mengiringi setiap langkah Myra dalam menggapai impiannya. Myra telah berhasil. Usahanya kini semakin dikenal luas oleh banyak orang dari tiap sudut kota.

Myra kini semakin sering mengirimkan uang kepada keluarganya, mulai dari biaya pengobatan ibunya, biaya sekolah adik-adiknya, hingga biaya lainnya seperti kebutuhan rumah. Semua itu ia  lakukan dengan ikhlas sebagai bentuk rasa terimakasih atas pengorbanan orang tuanya dan kerja kerasnya selama ini. Namun, ada satu hal yang luput dari dalam dirinya, yaitu… kembali.

Baca Juga  Rose BLACKPINK, Sempat Nyamar jadi Nenek-Nenek Demi Pujaan Hati

Tak jarang, Myra mendapati panggilan telepon dari orang tuanya dirumah. Menanyakan kabarnya serta bertanya-tanya kapan ia bisa pulang. Sering sekali dalam panggilan telepon tersebut terdapat suara adiknya yang menanyakan kapan Myra bisa pulang kembali kerumah. Tetapi, jawaban yang Myra telontarkan selalu sama. “Nanti ya bu, Myra masih belum ada waktu untuk bisa pulang kerumah. Nanti kalau Myra tidak sibuk, Myra pasti akan pulang. Kalau uang yang Myra berikan sudah habis, bilang saja ya bu”.