SINDOTIME.COM – Keinginan Sumatera Barat meningkatkan posisi di pentas olahraga nasional melalui Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 menghadapi tantangan yang tidak ringan. Selain menyiapkan atlet untuk merebut 25 medali emas dan menembus peringkat 10 besar nasional, ketersediaan anggaran pembinaan kini menjadi persoalan yang perlu segera mendapat perhatian.
Situasi keuangan yang dihadapi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumbar dinilai belum sejalan dengan besarnya target yang ingin dicapai. Pasalnya, lembaga tersebut tidak mendapatkan dana hibah pada APBD Perubahan 2026. Adapun dalam rancangan APBD 2027, anggaran yang disiapkan baru berkisar Rp10,3 miliar, jauh di bawah pengajuan KONI yang mencapai Rp40 miliar.
Minimnya dukungan pendanaan dikhawatirkan menghambat kesinambungan pembinaan atlet, terlebih pada 2027 terdapat sejumlah agenda kompetisi yang harus diikuti. Beberapa di antaranya Pekan Olahraga Wilayah (Porwil), babak kualifikasi PON, kejuaraan nasional, hingga Pekan Olahraga Negara Serumpun.
Keikutsertaan dalam berbagai kompetisi tersebut sangat menentukan peluang atlet Sumbar untuk mendapatkan tiket menuju PON 2028 yang akan diselenggarakan di Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Persoalan lain yang mulai menjadi perhatian adalah meningkatnya persaingan antardaerah dalam merekrut atlet berprestasi. Sejumlah nama potensial asal Sumbar, seperti Gilang Ilhaza, Syamsul Akmal, Yusma, Zikra Dwi Putri, serta beberapa atlet unggulan lainnya, dikabarkan mulai mendapatkan pendekatan dari daerah lain.
Bahkan, tawaran bernilai besar disebut-sebut telah diarahkan kepada sejumlah atlet tersebut. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi membuat Sumatera Barat kehilangan atlet-atlet berkualitas yang selama ini menjadi andalan dalam mendulang prestasi.
Ketua KONI Sumbar, Hamdanus, mengangkat persoalan tersebut dalam rapat koordinasi bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar serta pengurus induk organisasi cabang olahraga, Kamis (5/11/2026). Ia menilai keterbatasan dana tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa karena dapat berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan pembinaan dan masa depan atlet.
“Anggaran KONI Sumbar yang sangat terbatas ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama. Jangan sampai kondisi tersebut berdampak pada masa depan atlet yang selama ini telah berjuang mengharumkan nama Sumatera Barat,” ujarnya.
Hamdanus memaparkan, salah satu langkah yang telah ditempuh KONI Sumbar untuk menjaga atlet potensial agar tidak berpaling ke daerah lain adalah menjalankan program Pemusatan Latihan Provinsi (Pelatprov). Program tersebut sudah dimulai sejak awal 2026 dengan memberikan pembinaan kepada atlet sekaligus dukungan uang saku bulanan maksimal Rp3 juta.
Meski nominalnya belum besar, pemberian uang saku tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian KONI terhadap atlet sekaligus upaya mempertahankan loyalitas mereka untuk tetap memperkuat Ranah Minang.












