Kominfo wajib melibatkan secara aktif LKAAM Kabupaten Solok sekaligus menggandeng organisasi profesi wartawan secara inklusif. Rekan-rekan pers harus diposisikan sebagai jembatan informasi yang sah dan profesional untuk menyebarluaskan setiap kebijakan daerah.
Terutama untuk kebijakan-kebijakan yang berdampak sistemik dan sensitif seperti relokasi wilayah pasca-bencana, keterlibatan adat dan keterbukaan pada jurnalis menjadi mutlak hukumnya agar narasi yang keluar ke tengah masyarakat memiliki legitimasi kultural dan akuntabilitas publik yang kuat di bawah kepemimpinan Jon Pandu – Candra.
Lebih jauh lagi, transformasi gaya komunikasi ini harus diwujudkan melalui optimalisasi peran nyata para ninik mamak sebagai penyaring utama di kala krisis informasi melanda, ma-acu ka petuah: “Hulu mujua mako muaro baiak, jiko niniak mamak luruih mako anak kamanakan ka batua.” Humas Kominfo dituntut untuk cerdas memanfaatkan jaringan struktural ninik mamak, pengurus LKAAM, beserta kanal media massa lokal guna meredam setiap kasak-kusuk, desas-desus liar, maupun hoaks yang rentan berkembang di akar rumput pasca-bencana.
Pemerintah harus menyadari bahwa sebuah komunikasi krisis akan jauh lebih efektif, menusuk ke sanubari, dan menenangkan apabila disampaikan melalui sentuhan pendekatan kekeluargaan adat yang hangat serta didukung oleh penyebaran berita media secara luas dan jujur, daripada sekadar memuntahkan rilis pers birokrasi yang kaku, dingin, dan berjarak dari realitas penderitaan rakyat.
Pada akhirnya, gugatan keras terhadap Humas Kominfo Solok hari ini adalah lembar pembuktian atas hilangnya ruh kemanusiaan dan pengabaian nilai-nilai kemitraan adat serta peran media dalam pola komunikasi mereka selama ini. Adat Minang dengan jernih lah mamadahi: “Kato surang dibuleki, kato basamo dipatuahi, jiko cadiak indak mambuang kawan, jiko barani indak mambuang takuik.” Institusi ini telah bertukar rupa menjadi sekadar alat stempel kekuasaan yang tuli terhadap jeritan publik dan alergi pada dialektika.
Memindahkan ibu kota mungkin mudah dirancang di atas meja marmer yang mewah, tetapi memulihkan kepercayaan rakyat yang telanjur patah memerlukan akuntabilitas nyata, kebebasan pers yang dihargai, dan penghormatan tulus pada petuah adat. Sudah saatnya Humas Kabupaten Solok dirombak total dari mentalitas budak formalitas: hancurkan menara gading itu, turunlah ke ruang publik bersama media dan para pemangku adat, dan buktikan dengan nyata bahwa di bawah kepemimpinan Jon Pandu – Candra, pemerintah tidak sedang melarikan diri dari penderitaan rakyatnya sendiri.





