Opini

Membaca Arah Transportasi dari Lonjakan Konsumsi BBM

×

Membaca Arah Transportasi dari Lonjakan Konsumsi BBM

Sebarkan artikel ini
Oleh : Ronald Ellyza Eka Putra (Sekretaris DPC Organda Kabupaten Padang Pariaman)

SINDOTIME.COM-Kenaikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia hingga mencapai lebih dari 82 juta kiloliter pada 2024 patut dibaca lebih dari sekadar dinamika energi. Angka ini sesungguhnya merefleksikan kondisi sistem transportasi nasional yang belum sepenuhnya bertransformasi.

Sektor transportasi tercatat sebagai kontributor terbesar dalam konsumsi BBM. Fakta ini menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi, sementara transportasi publik belum menjadi pilihan utama.

Dalam konteks ini, persoalannya tidak semata pada preferensi masyarakat, melainkan pada ketersediaan dan kualitas alternatif yang ditawarkan.

Baca Juga  Paradoks Efisiensi : Memangkas Anggaran Keselamatan, Mempertaruhkan Generasi Emas

Transportasi publik di banyak daerah masih menghadapi tantangan klasik: keterbatasan jaringan, belum terintegrasi, serta kualitas layanan yang belum merata. Akibatnya, kendaraan pribadi tetap menjadi solusi paling rasional bagi masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah terus menghadapi tekanan dalam menjaga stabilitas subsidi energi. Tanpa intervensi struktural di sektor transportasi, beban ini berpotensi terus meningkat.

Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan menekan konsumsi BBM sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan sistem transportasi publik yang andal, terintegrasi, dan kompetitif.

Baca Juga  Menggugat Paradigma Kesuksesan Mudik Lebaran

Indonesia sebenarnya telah memulai sejumlah inisiatif, seperti pengembangan BRT dan upaya integrasi antarmoda. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan program-program tersebut berjalan secara konsisten, terkoordinasi, dan menjangkau lebih banyak wilayah, termasuk di luar pusat-pusat ekonomi utama.

Daerah memiliki peran penting dalam transformasi ini. Inisiatif seperti pengembangan sistem angkutan massal berbasis koridor di wilayah seperti Sumatera Barat dapat menjadi contoh bagaimana solusi lokal berkontribusi terhadap agenda nasional.