Internasional

China Balas Trump, Tak Ada Ampun Buat Produk Amerika

×

China Balas Trump, Tak Ada Ampun Buat Produk Amerika

Sebarkan artikel ini
PERANG EKONOMI : Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping dalam suatu kesempatan.(ist)

SINDOTIME.COM-China tengah menyusun strategi baru untuk menahan laju arus teknologi ke luar negeri, khususnya menuju Amerika Serikat. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pembatasan ekspor teknologi canggih yang digunakan dalam produksi panel surya—sektor yang saat ini sangat didominasi oleh industri dalam negeri China.

Kebijakan ini berpotensi menimbulkan dampak luas. Perusahaan-perusahaan Amerika, termasuk Tesla, bisa menghadapi kesulitan dalam membangun fasilitas baru atau memperluas kapasitas produksi energi surya di dalam negeri. Hambatan ini tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga berisiko memperlambat pengembangan teknologi lain yang bergantung pada pasokan listrik besar, seperti komputasi berbasis ruang angkasa.

Dominasi China di industri ini memang sangat signifikan. Negara tersebut menguasai lebih dari 80% rantai pasok komponen panel surya global, sekaligus menjadi basis bagi sebagian besar produsen mesin pembuat sel surya terkemuka. Ketergantungan global terhadap teknologi China inilah yang membuat setiap kebijakan pembatasan ekspor memiliki implikasi internasional yang besar.

Baca Juga  Sinyal AS Serang Iran Kian Menguat, Tiongkok Tegaskan Bela Taheran

Langkah ini juga dilihat sebagai kelanjutan dari ketegangan teknologi antara Beijing dan Washington. Sebelumnya, China telah lebih dulu membatasi ekspor mineral tanah jarang (rare earth), yang merupakan bahan penting dalam berbagai industri teknologi tinggi, sebagai respons terhadap kebijakan tarif dari Amerika Serikat.

Persaingan kedua negara kini merambah ke bidang yang lebih futuristik, seperti komputasi berbasis ruang angkasa yang ditenagai energi surya. CEO Elon Musk diketahui mendorong pengembangan pusat data orbital guna memenuhi kebutuhan energi besar untuk kecerdasan buatan. Di sisi lain, perusahaan teknologi besar seperti Google dan Amazon juga berlomba memperkuat infrastruktur energi terbarukan dan penyimpanan daya demi mendukung lonjakan kebutuhan AI.

Baca Juga  Film Karya Anak Bangsa Berjaya di Kompetisi Sony Asia Pasifik

Beberapa analis menilai kekhawatiran utama China adalah potensi berkurangnya ketergantungan Amerika terhadap pemasok mereka. Hal ini terlihat dari upaya Tesla yang sedang mencari peralatan produksi bernilai miliaran dolar dari vendor China, sembari merencanakan pembangunan kapasitas manufaktur panel surya hingga 100 gigawatt di AS sebelum 2028. Jika target tersebut tercapai, dominasi China di sektor ini bisa mulai terancam.