Padangpariaman

Dinkes Akhirnya Buka Suara Soal Meninggalnya Pasien Pascaoperasi RS Aisyiyah Pariaman

×

Dinkes Akhirnya Buka Suara Soal Meninggalnya Pasien Pascaoperasi RS Aisyiyah Pariaman

Sebarkan artikel ini
DITINDAKLANJUTI : Rapat Dinkes Padang Pariaman membahas soal meninggalnya pasien pascaoperasi RS Aisyiyah Pariaman.(pemkab padang pariaman)

SINDOTIME.COM—Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman memberikan penjelasan resmi terkait wafatnya seorang pasien setelah menjalani tindakan operasi di RS Aisyiyah Pariaman. Berdasarkan hasil penelusuran dan keterangan dari pihak rumah sakit, penyebab utama kematian adalah komplikasi serius dalam bidang kebidanan. Yakni atonia uteri—suatu kondisi ketika rahim tidak mampu berkontraksi secara normal setelah persalinan sehingga berpotensi menimbulkan perdarahan hebat.

Direktur RS Aisyiyah Pariaman, dr. Tri Wijayanto, MARS, FISQua, mengungkapkan bahwa pasien mulai mengalami perdarahan beberapa jam pascaoperasi. Kondisi ini berkaitan langsung dengan atonia uteri yang menyebabkan rahim gagal menghentikan aliran darah secara efektif, sehingga meningkatkan risiko kehilangan darah dalam jumlah besar dan membahayakan keselamatan pasien.

Baca Juga  Pabrik Es Slurry Bakal Dibangun di Padangpariaman, Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan

Dalam upaya penanganan, tim medis telah menjalankan prosedur sesuai standar profesi dan ketentuan operasional. Tahap awal dilakukan dengan pemberian obat-obatan uterotonika untuk merangsang kontraksi rahim. Namun karena respons yang diharapkan tidak tercapai, tim melanjutkan dengan tindakan operasi ulang (relaparotomi) sebagai langkah lanjutan guna mengendalikan perdarahan.

Melihat kondisi pasien yang membutuhkan penanganan lebih intensif, rumah sakit kemudian merujuk pasien ke RSUD Padang Pariaman sesuai mekanisme rujukan layanan kesehatan. Di rumah sakit rujukan, pasien mendapatkan perawatan lanjutan, termasuk transfusi darah dan pemantauan ketat di ruang perawatan intensif (ICU).

Baca Juga  207 Atlet Tarung Derajat Unjuk Kekuatan di Kejurprov Tarung Derajat Tingkat Sumbar 2025

Direktur RSUD Padang Pariaman, dr. Efriyeni, M.Kes, menjelaskan bahwa meskipun berbagai tindakan medis telah dilakukan secara maksimal selama sekitar 22 jam perawatan intensif, kondisi pasien tidak dapat diselamatkan dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Pihak RS Aisyiyah Pariaman menegaskan bahwa seluruh tindakan yang diberikan telah mengacu pada standar medis yang berlaku dan berorientasi pada penyelamatan nyawa. Kesimpulan akhir menyebutkan bahwa pasien meninggal akibat syok hemoragik berat, yaitu kondisi kehilangan darah dalam jumlah besar yang dalam situasi tertentu sulit dicegah meskipun telah dilakukan penanganan optimal.