Menurutnya, pengalaman berkompetisi sejak usia dini memberikan banyak manfaat bagi perkembangan atlet. Tidak hanya meningkatkan penguasaan teknik, tetapi juga membentuk mental, kepercayaan diri, dan kemampuan menghadapi tekanan pertandingan.
Melalui turnamen yang dilaksanakan secara berjenjang, pelatih juga memiliki kesempatan lebih luas untuk mengukur perkembangan atlet sekaligus mengidentifikasi mereka yang berpotensi dipersiapkan menuju kompetisi tingkat lebih tinggi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar, Tasliatul Fuaddi, yang hadir mewakili Gubernur Sumbar, secara resmi membuka kejuaraan tersebut. Ia menyebut pembinaan taekwondo memiliki nilai lebih dari sekadar mencetak atlet yang mampu meraih kemenangan.
Menurut Tasliatul, olahraga bela diri ini turut berperan dalam membangun kepribadian generasi muda, terutama dalam menanamkan kedisiplinan, integritas, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan diri.
Ia juga mengajak orang tua, tenaga pendidik, dan pelatih untuk bersama-sama mengawasi serta mendampingi perkembangan anak. Pendampingan tersebut diperlukan agar generasi muda tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba maupun berbagai dampak negatif dari lingkungan dan perkembangan teknologi.
Tasliatul turut mengingatkan bahwa taekwondo selama ini menjadi salah satu cabang olahraga yang memberikan kontribusi medali bagi Sumbar di ajang PON. Keberhasilan atlet yang pernah mempersembahkan medali emas diharapkan menjadi inspirasi bagi para peserta kejuaraan untuk mengikuti jejak prestasi pendahulunya.
Dalam persiapan menghadapi PON 2028, Sumbar telah menetapkan sasaran meraih 25 medali emas demi menembus peringkat 10 besar nasional. Sejumlah cabang olahraga diproyeksikan menjadi andalan untuk mencapai target tersebut, di antaranya taekwondo, atletik, sepak takraw, dan panahan.
Untuk mendukung persiapan itu, Pemerintah Provinsi Sumbar, kata Tasliatul, akan mengupayakan ketersediaan anggaran pembinaan bagi atlet potensial, khususnya mereka yang dipersiapkan mengikuti babak kualifikasi atau Pra-PON 2027.
Penyelenggaraan kejuaraan antarpelajar ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pertandingan semata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses panjang menciptakan atlet berkualitas melalui penjaringan bakat, pembinaan sejak dini, kompetisi rutin, serta sinergi antara pemerintah, organisasi olahraga, pelatih, sekolah, dan keluarga.
Dengan fondasi pembinaan yang kuat, Sumbar diharapkan mampu melahirkan generasi atlet taekwondo yang tidak hanya berprestasi di tingkat daerah, tetapi juga mampu bersaing dan menyumbangkan medali pada kejuaraan nasional maupun internasional. (*/zoe)












