Menurut Dilla, proses koordinasi dengan sekolah-sekolah dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dengan berbagai penyesuaian jadwal dan kegiatan sekolah masing-masing. Namun antusiasme sekolah yang berpartisipasi sangat luar biasa.
“Alhamdulillah, sambutan dari sekolah-sekolah benar-benar di luar dugaan. Para delegasi disambut dengan sangat hangat melalui penampilan tari tradisional, tambua, pertunjukan seni, pameran karya siswa, hingga berbagai aktivitas literasi. Bahkan banyak delegasi yang menyampaikan kekaguman terhadap keaktifan siswa, keramahan warga sekolah, dan kekayaan budaya yang mereka saksikan secara langsung,” katanya.
Dilla menambahkan, program tersebut tidak hanya menjadi ajang perkenalan budaya Minangkabau kepada dunia internasional, tetapi juga membuka wawasan peserta didik tentang pentingnya komunikasi, toleransi, dan kolaborasi global.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pengalaman belajar yang nyata kepada peserta didik. Literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang kemampuan memahami dunia yang lebih luas. Melalui IMLF Go to School, anak-anak kita belajar bahwa perbedaan bahasa dan budaya bukanlah penghalang untuk saling belajar dan berbagi pengalaman,” tambahnya.
Keberhasilan program IMLF Go to School menjadi salah satu bukti bahwa literasi mampu menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai bangsa dan budaya. Kegiatan ini sekaligus memperkuat posisi Bukittinggi sebagai kota literasi yang terbuka terhadap kolaborasi internasional serta mendukung penguatan karakter generasi muda melalui pengalaman belajar yang inspiratif dan mendunia.(zoe)








