Lipsus

Progul Mahyeldi-Vasco Mulai Berbuah, Nagari Creative Hub Pangian Gerakkan UMKM hingga Lestarikan Budaya

×

Progul Mahyeldi-Vasco Mulai Berbuah, Nagari Creative Hub Pangian Gerakkan UMKM hingga Lestarikan Budaya

Sebarkan artikel ini
oplus_0

Mayoritas produk unggulan berupa kuliner tradisional seperti sambal memiliki masa simpan yang relatif singkat sehingga sulit dipasarkan secara luas melalui platform daring.

Berbeda dengan rendang belut yang mampu bertahan hingga sekitar dua bulan, sebagian besar produk lain masih membutuhkan inovasi teknologi pengawetan.

“Kendala terbesar kami bagaimana produk makanan ini bisa tahan lama. Kalau rendang belut relatif aman, tetapi sambal dan produk lainnya masih perlu teknologi pengawetan agar bisa dipasarkan lebih luas,” ujarnya.

Karena itu, selain pendampingan pemasaran, pelaku UMKM berharap adanya dukungan teknologi pangan agar produk lokal memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Selain persoalan produk, pengelola NCH juga mengakui keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan berikutnya.

Kemampuan menjadi host live shopping, mengelola marketplace hingga strategi digital marketing masih sangat terbatas.

Padahal, pemasaran digital dinilai menjadi pintu masuk memperluas pasar UMKM Sumatera Barat.

“Kami juga masih kekurangan host. Anak-anak muda memang lebih cepat memahami teknologi, sehingga pelatihan digital marketing menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.

Baca Juga  Perbaikan Jalan Pascabencana Ancam Kelancaran Transportasi di Sumbar

Meski penjualan daring masih berkembang, sejumlah produk UMKM Nagari Pangian sebenarnya telah berhasil menembus pasar modern.

Minuman kesehatan berbahan serai-lemon-jahe serta rendang belut kini telah dipasarkan di salah satu pusat oleh-oleh di Kota Padang.

Namun tantangan berikutnya adalah menjaga kontinuitas produksi.

“Kalau produksinya tidak konsisten, produk bisa langsung dihentikan dari jaringan pemasaran. Jadi bukan hanya kualitas, tetapi kesinambungan produksi juga harus dijaga,” jelasnya.

Dari hasil kunjungan lapangan, terlihat bahwa Nagari Creative Hub tidak berhenti sebagai pembangunan fisik semata.

Program tersebut mulai berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, tempat lahirnya pelaku UMKM baru, ruang pelestarian budaya Minangkabau, sekaligus laboratorium transformasi digital di tingkat nagari.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian pemerintah, mulai dari penyelesaian infrastruktur yang belum rampung, peningkatan kapasitas SDM digital, fasilitasi sertifikasi halal, teknologi pengawetan produk pangan hingga perluasan akses pasar.

Baca Juga  Cegah Kerusakan Lanjutan, Operasi Tambang di Sejumlah Titik di Sumbar Disegel Kementerian LH

Dengan penguatan aspek-aspek tersebut, Nagari Creative Hub dinilai berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi berbasis nagari di Sumatera Barat.

Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setdaprov Sumbar Nolly Hendra menegaskan pembangunan tidak hanya diwujudkan melalui program pemerintah, tetapi juga melalui komunikasi publik yang sehat.

Menurutnya, masyarakat berhak memperoleh informasi pembangunan secara utuh sehingga dapat mengetahui berbagai capaian sekaligus memberikan masukan bagi penyempurnaan kebijakan.

“Negara juga harus hadir melalui publikasi yang jujur, berimbang, dan saling menghargai. Media memiliki peran strategis agar masyarakat mengetahui apa yang sedang dibangun pemerintah sekaligus ikut mengawalnya demi kepentingan Sumatera Barat,” kata Nolly.

Ia berharap sinergi pemerintah dan media terus diperkuat sehingga berbagai program unggulan daerah, termasuk Nagari Creative Hub, dapat dipahami masyarakat secara objektif dan memberikan manfaat yang lebih luas. (*)