SINDOTIME.COM-Nama Tigo Jangko, Nagari Tanjung Balik Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok agaknya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, ini karena daerahnya yang terpencil, yang hingga kini masih dibelenggu keterbatasan pembangunan infrastruktur, terutama akses transportasi.
Di balik keterbatasan tersebut, ada sejumlah Aparatur Sipil Negeri (ASN) yang hingga kini masih setia menjalani aktivitas sebagai guru di SDN 12 Tigo Jangko. Para pahlawan tanpa tanda jasa ini rela menempuh perjalanan hingga 14 Km demi bisa mengabdi untuk negeri. Meski harus bertaruh nyawa dengan menghadapi medan berat, yang tak jarang mengancam keselamatan jiwa mereka.
Akses menuju Tigo Jangko memang sangat jauh dari kata layak. Bahkan jalan sepanjang kurang lebih 14 kilometer harus dilalui dengan kondisi berlumpur, licin, dan sulit dilalui kendaraan. Kondisi ini bukan hanya menyulitkan, tetapi juga berisiko tinggi, terutama saat musim hujan. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para pendidik untuk tetap hadir di tengah-tengah siswa.
Salah seorang guru SDN 12 Tigo Jangko, Doni, yang berdomisili di Muara Panas, Kecamatan Bukit Sundi mengungkapkan bahwa perjalanan dari rumah menuju sekolah memakan waktu hingga enam jam. Jalan yang seharusnya beraspal kini berubah menjadi ”aspal merah” sebutan warga untuk jalan berlumpur yang sulit dilalui.
Meski demikian, ia bersama sembilan majelis guru lainnya, serta tujuh tenaga pendidik yang berasal dari luar daerah Tigo Jangko, tetap menunjukan kesetiaannya untuk menjalankan tugas mereka dengan penuh dedikasi.
Selama bertahun-tahun mengabdi, para guru ini tidak pernah mengeluh, meskipun dihadapi dengan fasilitas pendidikan yang sangat terbatas di sekolah mereka. Ruang kelas yang seadanya, meja dan kursi yang kurang memadai, hingga minimnya sarana penunjang pembelajaran sudah menjadi tantangan sehari-hari. Namun, semangat mereka tetap teguh demi mewujudkan generasi emas di daerah terpencil tersebut.











